Sang Perapian dan Sang Salamander

Yo English-speakers. I wrote plenty about this in another post.

Ini terjemahan bahasa Indonesia untuk adegan pembuka novel Fahrenheit 451 karya Ray Bradbury, karena aku nggak ada kerjaan, masih kesel sama kualitas novel terjemahan, dan mungkin masokis (nerjemahin Bradbury itu hard mode, ok). Terjemahannya bukan kata-per-kata, dan diusahakan enak dibaca.

Kritik, saran, komentar boleh nih. Kalau ada yang punya terjemahan versi lain buat Fahrenheit 451 boleh tuh dibandingin.


Sang Perapian dan Sang Salamander

Sangatlah nikmat membakar.

Sangatlah nikmat melihat benda yang termakan, menghitam, berubah. Dengan selang kuningan di genggamannya, dan sang piton agung meludahkan minyak tanah berbisanya ke dunia, dengan darah berdentum di kepalanya, dan tangannya seumpama konduktor dahsyat dalam simfoni membara dan membakar untuk menjatuhkan kerutan, reruntuhan hangus dunia. Dengan helm simbolis yang bertuliskan angka 415 di kepala tegapnya, dan mata yang semuanya api oranye dengan harapan akan apa yang terjadi selanjutnya, ia nyalakan pemantik api, dan rumah di depannya melonjak dalam api yang rakus, yang membakar langit sore dalam merah, kuning, dan hitam. Di atas segalanya, ia ingin, seperti di kelakar kuno, mengulurkan seranting marshmallow ke sang perapian, sembari menonton buku-buku yang berada di teras dan pekarangan rumah itu mengepakan sayap-halamannya dan mati. Sembari menonton buku-buku itu meletus dalam pusaran berkilau dan tertiup pergi oleh angin yang hitam terbakar.

Montag tersenyum dengan seringai sengit yang dimiliki semua orang yang dihanguskan dan didorong mundur oleh api.

Dia tahu ketika ia kembali ke kantor pembakaran, melihat ke cermin, ia mungkin akan mengedip ke dirinya sendiri, lelaki penyair, terbakar dan tersengat. Nanti, ketika ia tidur, ia akan merasakan senyum berapi itu masih mencengkram otot wajahnya di kegelapan. Tak pernah pergi, seringai itu. Tak pernah sekalipun pergi, sejauh ingatannya menjulur.

***

Ia menggantungkan helm hitam kumbangnya dan menyemirnya; ia gantungkan jaket antiapinya dengan rapi; ia mandi dengan mewah, lalu, sambil bersiul dengan tangan di dalam sakunya, ia berjalan di lantai teratas kantor pembakaran dan lompat ke dalam lubang. Pada detik-detik terakhir, ketika bencana terlihat sangat pasti, ia mengeluarkan tangannya dan menggenggam tiang emas di depannya, menghentikan momentum jatuhnya. Ia meluncur hingga berhenti dengan tumitnya hanya satu inci dari lantai beton di bawah.

Ia berjalan keluar dari kantor pembakaran dan terus menyusuri jalanan tengah malam, menuju kereta bawah tanah. Di situ, tanpa suara, kereta bertenaga angin itu akan membawanya menuruni terowongan yang licin oleh asap dan akhirnya mengeluarkannya, disertai semburan udara hangat, ke eskalator berwarna kuning gading yang membawanya naik ke daerah perumahan.

Sambil bersiul, ia membiarkan eskalator itu membawanya naik ke angin malam yang tenang. Ia berjalan ke pertigaan, pikirannya melayang antara hal-hal yang tidak penting. Tetapi sebelum ia sampai, ia melamban, seakan-akan suatu angin datang bersiul entah dari mana, seakan-akan seseorang memanggil namanya.

Malam-malam terakhir ini ia mendapat perasaan yang amat tak pasti tentang trotoar pas di pertigaan itu. Ia merasakannya sesaat sebelum berbelok; ada seseorang di sini. Di sekelilingnya, udara seperti dipenuhi oleh ketentraman yang istimewa, seakan-akan seseorang telah menantinya di sana, dalam diam, dan, sesaat sebelum ia datang, bergabung dengan bayangan dan membiarkannya lewat. Mungkin hidungnya mencium secercah wangian parfum, mungkin sentuhan di punggung tangannya, di wajahnya. Ia merasakan suhu udara naik di titik tempat keberadaan seseorang bisa menaikkan atmosfer sepuluh derajat secara instan. Tak pernah ia bisa memahaminya. Setiap kali ia membelok, ia hanya melihat trotoar yang putih, tak terpakai, terbebani, dan di atasnya, mungkin, pada suatu malam, sesuatu bergerak dan menghilang dengan cepat ke suatu pekarangan sebelum ia bisa memfokuskan pandangannya atau berkata.

Tapi sekarang, malam ini, ia melambankan jalannya hingga hampir berhenti. Pikiran dalamnya, menggapai-gapai untuk membawanya pergi, mendengar sekelumit bisikan. Tarikan napas? Ataukah atmosfer di situ berubah hanya karena ada seseorang yang berdiri tanpa suara, menunggu?

Montag bergerak maju dan membelok.

Angin musim gugur bergerak di atas jalanan, di bawah terang bulan, dengan begitu sempurnanya hingga membuat gadis yang menapakinya seperti meluncur, dibawa maju oleh gerakan angin dan dedaunan. Kepalanya agak bungkuk, memerhatikan sepatunya mengaduk dedaunan yang berputar. Wajahnya langsing dan seputih susu, dan di dalamnya ada sebuah nafsu lembut yang tanpa lelah menyentuh seluruh jagat raya dengan rasa ingin tahu. Tatapannya hampir seperti suatu rasa kaget yang pudar, dan mata hitamnya begitu kukuhnya melihat dunia hingga tak ada yang luput darinya. Gaunnya berwarna putih membisik. Montag hampir merasa ia bisa mendengar ayunan tangannya ketika gadis itu berjalan, bahkan suara yang tak terhingga kecilnya seperti gerakan kepalanya ketika ia menoleh dan melihat bahwa dirinya hanya berjarak sekejap dari lelaki yang berdiri menunggu di tepi jalan.

Pepohonan di atas menjatuhkan hujan-hujan kering. Gadis itu berhenti dan memerhatikannya, seperti ia akan mundur terkejut, tetapi ia malahan berdiri dan menatapnya dengan mata yang sungguh hitam dan hidup dan bercahaya. Sang gadis membuat Montag merasa telah mengatakan sesuatu yang sangat fantastis, tetapi ia tahu ia baru menggerakan mulutnya untuk berkata salam, dan ketika sang gadis menatapnya seakan terhipnotis oleh salamander di lengannya dan piringan burung api di dadanya, ia melanjutkan kata-katanya.

“Oh iya,” ucap Montag, “kamu tetangga baru, ya?”

“Dan Bapak pasti petugas pemad—” Ia mengangkat pandangannya dari kedua simbol profesional itu. “—petugas pembakaran.” Suaranya menjauh.

“Memangnya aneh?”

“Aku—aku bisa tahu dengan mata tertutup,” katanya dengan lamban.

“Kenapa, karena bau minyak tanah? Istriku selalu mengomel tentang itu,” Montag tertawa. “Baunya tidak pernah bisa kubersihkan.”

“Iya, tidak bisa,” kata si gadis dengan takjub.

Montag merasa gadis itu sedang mengitarinya, memutarnya dari ujung ke ujung, menggoncangkannya, mengosongkan sakunya, tanpa sekalipun bergerak.

“Minyak tanah,” kata Montag, karena mereka sudah terlalu lama hening, “sama saja dengan wangian bagiku.”

“Oh, benarkan seperti itu?”

“Tentu saja. Kenapa tidak?”

Si gadis memberi dirinya waktu untuk berpikir. “Entahlah.” Ia menengok ke jalan yang mengarah ke perumahan mereka. “Tidak apa-apa kalau aku ikut berjalan denganmu? Namaku Clarisse McClellan.”

“Clarisse. Namaku Guy Montag. Ayo. Kamu sedang apa jalan-jalan malam-malam begini? Berapa umurmu?”

Mereka berjalan di antara tiupan angin hangat-sejuk malam, di atas trotoar perak dengan semerbak persik dan stroberi segar di udara. Lalu Montag melihat ke sekelilingnya dan sadar bahwa itu tidak mungkin di musim ini.

Hanya ada gadis itu sekarang, berjalan bersamanya. Wajahnya putih seperti salju di bawah terang bulan, dan Montag tahu ia sedang memutar pertanyaannya di kepalanya, mencari jawaban terbaik yang bisa ia berikan.

“Jadi,” katanya, “aku tujuh belas tahun dan aku gila. Pamanku selalu bilang keduanya saling bergandengan. Kalau ada yang menanyakan umurmu berapa, katanya, selalu jawab tujuh belas tahun dan gila. Ini jam yang enak untuk jalan-jalan ya, malam ini? Aku senang menghirup apapun dan melihat apapun, dan kadang aku tak tidur semalaman, berjalan saja, dan melihat matahari terbit.”

Mereka berjalan lagi dalam hening dan ahirnya ia berkata, setelah berpikir panjang, “Tahu tidak, aku tidak takut denganmu sama sekali.”

Montag terjekut. “Kenapa kamu harus takut?”

“Banyak orang yang takut. Takut dengan petugas pembakaran, maksudku. Tapi bagaimanapun, kalian manusia….”

Montag melihat dirinya di matanya, tertahan dalam dua tetesan air yang gemilang, dirinya, gelap dan kecil, begitu mendetail, garis-garis di atas mulutnya, seluruhnya. Seakan mata gadis itu adalah dua amber ungu ajaib yang bisa menangkapnya dan mengawetkannya selamanya. Wajahnya, menghadap ke dirinya sekarang, adalah kristal susu rapuh yang di dalamnya berada suatu cahaya yang lembut dan tak terhenti. Bukan cahaya histeris lampu listrik, tapi—apa? Bukan itu, tapi cahaya yang langka, yang membuatmu nyaman, yang berkibar halus seperti api di lilin. Suatu masa, ketika ia masih anak-anak, saat listrik padam, ibu Montag menemukan dan menyalakan satu lilin terakhir. Mereka mendapatkan satu jam singkat yang dipenuhi penemuan dan penerangan yang begitu indah, hingga ruang kehilangan dimesinya yang luas dan menyusut hingga menyelimuti hanya mereka, dan mereka, ibu dan anak, hanya mereka, berubah, dan berharap listrik tidak terburu-buru menyala kembali….

Lalu Clarisse McClellan berkata:

“Boleh tidak aku bertanya? Sudah berapa lama Bapak menjadi petugas pembakaran?”

“Sejak umurku dua puluh tahun, sepuluh tahun yang lalu.”

“Pernah tidak membaca buku-buku yang Bapak bakar?”

Montag tertawa. “Itu melanggar hukum!”

“Oh. Tentu saja.”

“Kerjaku cukup baik. Senin bakar Shelley, Selasa Stevenson, Kamis Kafka. Bakar semua hingga abu, lalu bakar abunya. Itu slogal resmi kami.”

Mereka terus berjalan, lalu Clarisse berkata, “Benarkah dulu sekali petugas seperti Bapak memadamkan api, bukannya memulainya?”

“Tidak. Sejak dulu, rumah-rumah selalu tahan api. Percayalah.”

“Aneh. Aku dengar dulu sekali, rumah bisa kebakaran tanpa disengaja, dan mereka butuh petugas untuk memadamkan apinya.”

Montag tertawa.

Clarisse menengoknya dengan sungut. “Kenapa kamu tertawa?”

“Entahlah.” Montag ingin tertawa lagi, tetapi ia menghentikannya. “Kenapa?”

“Bapak tertawa saat aku tidak melucu dan selalu langsung menjawab. Tidak pernahkan Bapak berpikir tentang apa yang kutanyakan?”

Montag berhenti berjalan. “Kamu memang aneh ya,” katanya, sambil melihat ke arah sang gadis. “Apa kamu tidak ada rasa hormat?”

“Bukan maksudku mengejek. Mungkin aku hanya terlalu senang melihat orang lain.”

“Apa ini tidak ada artinya buatmu?” Montag mengetuk tanda 451 yang dijahit di lengan bajunya.

“Ada,” bisik Clarisse membalasnya. Ia berjalan leih cepat. “Apa Bapak pernah melihat mobil jet melaju di jalan ke arah sana?”

“Jangan langsung ganti topik!”

“Kadang aku berpikir, apa pengendaranya tidak tahu apa itu rumput, atau bunga, karena mereka tidak pernah sempat melihatnya?” lanjut Clarisse. “Kalau pengedara itu diperlihatkan buraman berwarna hijau, ia akan jawab, Oh ya! Itu rumput! Berinya buraman merah, itu taman bunga! Buraman putih adalah perumahan. Buraman coklat itu sapi. Pamanku pernah menyetir mobil sambil pelan-pelan di jalan tol. Ia bergerak 60 kilometer per jam dan ia dipenjara selama dua hari. Agak lucu ya. Tapi sedih juga.”

“Kamu terlalu banyak berpikir,” kata Montag dengan rasa tidak enak.

“Aku jarang menonton ‘dinding tamu’ atau datang ke balapan atau ke taman hiburan. Jadi mungkin aku punya waktu untuk pikiran-pikiran gila. Apa Bapak pernah melihat papan iklan sepanjang enam puluh meter di pinggir kota? Tahu tidak dulu papan iklan panjangnya hanya enam meter? Mobil sekarang bergerak begitu cepat, mereka harus memanjangkannya agar iklannya terbaca.”

“Aku tidak tahu itu!” Montag tertawa tiba-tiba.

“Aku tahu satu hal lagi yang Bapak pasti tidak tahu. Ada embun di atas rumput pagi ini.”

Montag tiba-tiba tidak bisa ingat apakah ia tahu itu atau tidak, dan ia jadi agak kesal.

“Dan kalau kautengok”–Clarisse menengadah ke langit–“ada orang di bulan.”

Montag sudah lama sekali tak pernah menengok bulan.

Mereka melanjutkan perjalanan dalam keheningan. Keheningan milik Clarisse dipenuhi berbagai pikiran, dan milik Montag adalah keheningan yang membungkam dan tak nyaman, diisi dengan mencuri-curi pandangan menuduh ke sang gadis. Ketika mereka mencapai rumah Clarisse, ia melihat semua lampunya menyala.

“Ada apa di sini?” Montag jarang sekali melihat begitu banyak lampu di rumah.

“Oh, cuman ibuku dan ayahku dan pamanku duduk-duduk, mengobrol. Mirip seperti menjadi pejalan kaki, tapi lebih tak biasa. Pamanku pernah ditangkap—sudah kuceritakan belum?—ditangkap karena ia berjalan kaki. Oh, kita sungguh aneh.”

“Tapi kalian mengobrolkan apa?”

Clarisse tertawa. “Selamat malam!” Ia berjalan maju ke arah rumahnya. Lalu ia seperti teringat sesuatu, dan berbalik untuk melihat Montag dengan rasa takjub dan ingin tahu. “Apa Bapak bahagia?” tanyanya.

“Apa aku apa?” pekiknya

Tetapi Clarisse sudah menghilang—berlari di bawah terang bulan. Pintu depannya tertutup dengan lembut.

Advertisements

One thought on “Sang Perapian dan Sang Salamander

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s