Walks Into a Bar

Bahasa Indonesiaku sangat payah.

Bukan payah karena aku nggak ngerti bahasaku sendiri. Bukan payah karena nilai bahasa Indonesiaku jelek. Bukan. Enak aja. Aku dapat A untuk mata kuliah Tata Tulis Karya Ilmiah, tahu. Payah karena aku sudah cinta dengan bahasa Inggris jauh sebelum aku berani ngedeketin bahasa Indonesia.

Jadi kalau disuruh nulis pakai bahasa Indonesia?  Biasanya keluar di otak sebagai bahasa Inggris; harus diterjemahkan dulu. Lebih sering buka kamus Inggris-Indonesia waktu menulis essai bahasa Indonesia daripada bahasa Inggris. Malu-maluin.

Jadi, ini.

Ryan Koyanagi belum profesional setahuku, tapi dia penulis favoritku. Di bawah ini terjemahan untuk bab pertama (?) Walks Into a Bar, dilakukan karena iseng dan berusaha mencari ke-Indonesiaan. Lumayan asik sih nerjemahinnya. Dia tulis itu untuk NaNoWriMo, jadi memang dari awal, what’s the word, dang it. Unpolished. 

Dia baru nulis beberapa bab dan kayaknya gak bakal diselesaiin (?). Ini juga paling cuman bab pertamanya saja yang kuterjemahin. Iseng. Tolong masukannya.

Probs rated 15+, by the way.

Walks Into a Bar – Day 1

Seorang gadis dan dua lelaki yang membawa pemukul baseball masuk ke dalam bar. Itu bisa berarti awal dari lelucon yang payah, atau awal dari hari yang payah. Lebih mungkin hari, sih, karena ini bar milikku.

Gadis itu berpakaian paling bagus daripada yang lain. Kemungkinan besar karena dia tidak berusaha menjadi orang lain. Antara dia tidak nonton berita, atau memang pendapatnya tentang bisnis/bisnis-kasual itu kaus dalam biru dan jaket bertudung yang tidak diresleting. Walaupun begitu, pakaiannya tetap pas. Lelaki yang lain, pendapat mereka tentang pakaian elit hanya jaket blazer yang kebesaran.

“Pagi, Mas,” kata si gadis.

Jam menunjukan setengah tiga sore.

“Kita baru buka enam jam lagi, Kawan.” Aku memerhatikan ketiga orang itu.

Lelaki pertama, di samping kanan sang gadis, sebelah kiriku, besar berotot — tipe lelaki yang mengangkat mobil Corolla tiap pagi. Tetapi tingginya cuman satu setengah meter. Seharusnya itu kusebutkan di awal, tapi “seorang gadis, seorang lelaki, dan seorang kerdil, dua di antaranya membawa pemukul baseball, masuk ke dalam bar” tidak terdengar seperti pembuka yang bagus.

Ada lelaki kedua, yang, setelah melihat yang pertama, tidak terlihat terlalu menarik. Dia mungkin lebih banyak olahraga daripada kebanyakan orang, tapi di sebelah si lelaki pendek, dia terlihat seperti bocah yang baru ke gym dua kali, lalu mengaku cukup jantan untuk memakai bandana dan jaket dada terbuka.

Lalu gadisnya. Dia tipe wanita kulit putih dengan rambut hitam pekat. Mungkin dia sudah begitu dari lahir, atau dia memakai Maybelene (Maybelene membuat cat rambut, kan?), tapi intinya dia sengaja memiliki rambut hitam pekat. Dia bisa saja pirang, tapi itu sudah tidak zaman. Dia bisa saja berambut merah. Dia bisa saja berambut coklat muda, tipe cewek pujaan lelaki rumahan. Tapi dia memilih rambut hitam pekat tipe gadis nakal nakal nakal, tiga kali nakalnya.

Buah dadanya sama nakalnya. Besar.

Dihitung-hitung, kemungkinanku tidak terlihat bagus, walaupun aku hanya akan melawan dua orang juga. Aku tidak sedikitpun sebesar mereka. Atau sama bersenjatanya.

“Lucu sekali,” si gadis tersenyum padaku. Itu senyum jenis “ups, maaf deh” tanpa sepeserpun ironinya. “Jadi gimana kalau kita langsung saja. Tak perlu lelucon basa basi, tidak terusan melihat dadaku, cuman orang dewasa yang duduk dan bicara bisnis.”

Njas. Padahal kukira mataku sudah diam-diam.

Aku menghembuskan napas. “Oke. Baiklah. Apa yang kau mau?”

Dia berbicara lagi. Aku tidak mendengarnya. Bukan karena aku sedang melihatnya terus (oke, aku melirik sediki), tapi karena aku baru ingat ada kaki kursi di bawah konter. Salah satu kursi bar rusak kemarin, jadi aku menyimpan bagiannya kalau-kalau harus membetulkan kursi lainnya. Tidak terlalu panjang, tapi setengah meter tongkat metal sepertinya lebih baik daripada melompat tanpa senjata.

Kemungkinanku masih buruk, tapi setidaknya aku ada kesempatan melawan. Ambil kaki kursi itu dengan tangan kananku, melompat ke luar bar dengan kaki kiriku, menunduk untuk menghindari pukulan, tumbangkan lutut si lelaki biasa. Putar tongkat dan bawa ke atas di antara kaki si kerdil, pas mengenainya di bola kerdilnya. Lalu, kita bisa bicara.

“Jadi?” tanya si gadis.

“Maaf.” Aku menaikkan pundak. Tanganku meraih kaki kursi. “Aku tidak mendengarkan. Aku terlalu hilang di bola matamu.”

Kencangkan lutut, tahan tangan kiri ke meja.

“Ampun, Tuhan.” Si gadis menekan hidungnya. “Kita berbisnis dengan orang goblok.”

Ya, memang mereka begitu.

Lompat!

Tidak pernah seingatku aku dihajar sekeras ini sejak aku SMP.

Bukan oleh si kerdil dan sobatnya, maksudku, ini kilas balik. Maaf kalau membingungkan.

Aku baru saja berusaha menghentikan tawuran di dalam bar. Aku tidak mendengar bagaimana tawuran itu bisa mulai, dan sejujurnya, aku tidak begitu peduli. Faktanya, beberapa cowok sedang saling hajar di dalam bar milikku, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi saja.

“Oh, duh, apa kau baik-baik saja?”

Itu Abby, penjaga barku, dan mungkin satu-satunya alasan orang-orang datang ke bar ini. Abby gadis India, lahir dan dibesarkan Inggris. Elok, eksotis, dan dengan tubuh yang bisa mengubah busana apapun dari kusam menjadi cantik sekali. Plus, aksennya menggairahkan.

Banyaknya hal-hal kecil itulah yang membuatnya begitu menarik, bagaimana hal kecil itu saling menumpuk. Tampilan pertama memesonamu, dan setiap kali kamu meliriknya lagi, ada saja kejutan menarik lainnya. Ada caranya memiringkan kepalanya saat ia tersenyum, ada saat-saat ketika kamu bisa mendengarl aksen Inggrisnya menjurus keluar, atau saat-saat ketika ia tidak sengaja menyebut “pound” dan bukan “dollar”. Beberapa saat kemudian, kamu tahu kalau Abby itu singkatan dari Abhilasha, dan dia menggunakan satu setengah menit untuk mengajarimu cara menyebutnya dengan benar. Kamu hampir bisa melakukannya pada percobaan ke lima-puluh-apalah. Dia tersenyum, memiringkan kepalanya sedikit. Dan ketika kamu kembali lagi ke sini, dia sedang mengikuti obrolan yang sama dengan lelaki kampret lain yang beruntung bisa sampai ke bar lebih dulu. Dia sememukai seorang gadis yang tahu seberapa cantik dirinya, dan dia memiliki begitu banyak karisma hingga bisa mengubah yang sangat alim sekalipun menjadi sedikit manja.

Dia penjaga barku, dan dia sedang mencodong ke arahku, menggunakan botol vodkanya untuk mendinginkan memarku. Aku bisa melirik ke dalam bajunya dengan sangat mudah dari sini.

Aku akui di sini aku punya masalah melirik yang sangat buruk. Seperti, inkarnasi pandangan lelaki. Itu istilah dari teori film feminisme. Aku belajar sastra komparatif di kuliah. Jadi, ditambah dengan masalah melirik, aku juga bermasalah untuk berpikir panjang. Tipe masalah yang membuatku berpikir ikut tawuran, mengayun-ngayunkan botol bir di tiap tangan, adalah cara yang bagus untuk menyelesaikan masalah.

“Woo! Persetan dengan tempat ini!” teriak salah satu cowok-cowok itu, menjungkirbalikkan meja sambil berusaha berjalan moonwalk keluar.

Moonwalkmu payah, bangsat!” aku berteriak balik.

Abby tertawa kecil. Tawa yang berkelas. Tipe tawa yang harus kau tutupi agar sempurna. Tipe tawa yang bisa kaugunakan untuk melumasi kue. “Kamu harus berhenti berkelahi seperti itu, tahu,” katanya. “Suatu hari kamu bisa sakit sendiri.”

“Seperti hari ini.” Aku mengangguk.

Aku mungkin harus membeli senapan. Aku bisa menjadi seperti penjaga bar keren itu yang punya senapan, kalau kita bisa melupakan fakta bahwa aku bukan penjaga bar. Aku pemilik bar, yang tidak tahu satupun hal tentang membuat minuman. Karena itulah aku mempekerjakan Abby. Masalah berpikir panjang ini akan menggangguku terus.

Aku pemilik bar jazz – namanya *Silver Spoon*. Bar ini juga menyusung gelar sebagai bar jazz paling sampah di kota, tapi kompetisinya lumayan. Bukan tipe tempat atau tipe orang-orang yang biasanya berkelahi, tapi kamu tidak bisa berharap terlalu banyak dari uang muda.

Uang tua mungkin sombong, tetapi merekalah mereka. Bocah dengan milyar pertamanya di dalam bank dan tumpukan uang di dalam celananya akan mau memamerkannya. Dia akan memakai pakaian mencolok, mengendarai mobil mencolok, mencari wanita mencolok. Dia akan muncul di bar jazz, merasa yang harus dilakukannya agar bisa berkelas hanya berada di dalam ruangan yang sama, menggosok uang di pahanya, menuang minuman ke nadinya. Dan semakin sedikit uang yang dimilikinya, semakin dia akan mengerluarkannya untuk meninggikan ilusi kepemilikannya.

Uang tua? Uang tua tidak akan melakukan semua itu. Kamu tidak perlu mengeluarkan uang untuk memperlihatkan kalau kamu punya nama seperti Vanderbilt, atau Carnegie.

Uang baru, mereka melakukan hal seperti menamai anak mereka Vanderbilt Carnegie. Itu namaku, omong-omong. Vanderbilt Carnegie Hoang. Orang tuaku sepertinya berpikir aku akan sukses hanya secara asosiasi. Ini bukan nama seperti Martin Luther King, atau George Washington Carver. Namaku bukan datang dari Cornelius Vanderbilt, atau Andrew Carnegie. Aku dinamai ini karena konotasi Vanderbilt, konotasi Carnegie, perasaan yang kau dapat ketika mendengar nama Astor, Rockefeller, Rothschild.

Mereka tidak ingin punya anak yang tumbuh menjadi kepala dari megakorporasi berkelas. Mereka ingin anak mereka menjadi megakorporasi berkelas. Mereka ingin anak mereka menjadi seluruh atmosfer yang dikeluarkan perusahaan macam itu. Mereka mendidik anak mereka mengharapkan cek dari bank.

Mereka akhirnya mendapat dropout kuliah yang mengurus bar jazz, dibeli dengan uang ayah, dipertahankan keberadaannya oleh para laki-laki paling belangsatan di negari ini.

Mungkin mereka seharusnya menamaiku Forbes.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s