Pemilik Pondok Terakhirku

Ini terjemahan amatiran untuk cerpen “My Last Landlady“, dari kumpulan cerpen Trigger Warning karya Neil Gaiman. Aslinya dalam bentuk setengah-puisi dalam bahasa Inggris, diterjemahkan ke prosa bahasa Indonesia. Terjemahannya lumayan bebas, lebih menekankan kedekatan perasaan daripada kata-per-kata. Bait/baris pusi kuubah bebas jadi paragraf-paragraf.

Iseng aja sih. Waktu itu lagi nggak ada kerjaan dan nggak ada kekuatan buat nulis lagi.

Pemilik Pondok Terakhirku
Karya Neil Gaiman

Pemilik pondok terakhirku? Ia tidak sepertimu. Sama sekali tidak sepertimu.

Sarapannya tidak enak: telur berminyak, gumpalan jingga kacang, sosis yang kasar seperti kulit. Tampangnya bisa menyamak kulit. Dia tidak baik hati.

Kau terlihat baik di mataku. Kuharap duniamu baik hati. Dan maksudku, kudengar kita melihat dunia bukan seperti dunia sebenarnya, tetapi seperti kita sendiri. Orang yang dermawan melihat dunia yang dermawan, pembunuh melihat predator dan mangsa.

Pemilik pondokku bilang ia tidak akan berjalan di pantai dengan sendirinya. Tempat itu penuh dengan senjata: bebatuan besar yang pas di tangan, menunggu untuk menebas. Dia hanya memiliki sedikit uang di dompet kecilnya, katanya, tetapi mereka akan mengambil isinya, berminyak dari tangannya, dan meninggalkannya mencuat dari balik batu.

Dan air, katanya, akan menahan siapapun tenggelam, air garam yang dingin, kelabu dan coklat. Seberat dosa, siap menarik dan menyeretmu: anak-anak pergi semudah itu, di laut, ketika mereka lebih dari yang dibutuhkan atau telah mendengarkan kabar angin yang mereka ingin sebarkan kepada mereka yang mendengarkan. Ada banyak orang di Dermaga Barat, katanya, pada malam ketika dermaga itu terbakar.

Gordennya adalah renda berdebu, menutup semua jendela kelabu. Berlatar laut: hanya lelucon. Suatu pagi ia melihatku menyibak gordennya, untuk melihat apakah hujan benar turun, dan ia menarik tanganku.

“Tuan Maroney,” katanya. “Di rumah ini kita tidak melihat laut melalui jendela. Itu membawa pertanda buruk.” Katanya, “Orang-orang datang ke pantai untuk melupakan masalah mereka. Itu kebiasan kita. Itu kebiaasaan bangsa Inggris.

“Kau potong-potong kekasihmu, karena ia hamil dan kau takut apa kata istrimu kalau ia tahu. Atau kau racuni bankir selingkuhanmu untuk asuransinya, nikahi lusinan pria di lusinan kota kecil di pinggir laut.

“Tuhan mencintai mereka, tetapi mengapa mereka hanya berdiri dengan kaku?”

Ketika kutanyakan siapa, siapa yang hanya berdiri kaku, ia mengelak dan berkata itu bukan urusanku, dan mengingatkanku untuk meinggalkan pondok antara tengah hari dan empat sore, karena pembantunya akan datang, dan aku akan menganggunya bersih-bersihnya.

Aku telah tinggal di pondoknya selama tiga minggu, mencari pekerjaan permanen. Sewanya kubayar tunai. Tamu yang lain hanya pasangan tanpa cinta yang sedang berlibur dan tak peduli apa ini firdaus atau neraka. Kami bersama menyantap telur licin untuk sarapan. Aku melihat-lihat pesisir jika hari cerah, atau berkumpul di beranda jika hujan. Pemilik pondokku hanya berharap mereka di luar sampai sore.

Seorang pensiun dokter gigi dari Edbguston, di sini untuk satu minggu berisi sepi dan gerimis di pinggir laut, mengangguk padaku saat sarapan, atau saat kita berpapasan di pantai.

Kamar mandi berada di ujung koridor. Aku bangun di malam hari. Aku melihatnya dalam baju tidurnya. Aku melihatnya mengetuk pintu pemilik pondok. Aku melihat pintunya terbuka. Dia masuk. Tak ada lagi yang perlu diceritakan.

Pemilik pondokku datang saat sarapan, mukanya merah dan matanya gembira. Ia berkata dokter gigi itu harus pulang lebih cepat, ada yang meninggal dalam keluarganya. Tak ada dusta dalam ucapannya.

Malam itu hujan menggertak jendela. Seminggu berlalu, dan tiba waktunya: aku beri tahu pemilik pondokku bahwa aku telah menemukan tempat tinggal baruku, dan kubayar sewanya.

Malam itu ia memberiku segelas wiski, lalu segelas lagi, dan mengatakan aku selalu merupakan favoritnya, dan ia adalah wanita yang berkebutuhan, bunga yang ranum, siap dipetik, dan ia tersenyum, dan wiski membuatku mengantuk, dan aku merasa wajah dan raganya tidak semasam sebelumnya.

Akhirnya kuketuk pintunya malam itu. Ia membukanya: aku ingat putih dari kulitnya, putih dari gaunnya. Tak bisa kulupakan.

“Tuan Maroney,” ia berbisik. Aku meraihnya, dan itulah yang kuingat, selamanya. Selat yang dingin dan masah dengan garam, ia mengisi kantungku dengan batu untuk mendorongku tenggelam. Jadi ketika mereka menemukanku, jika mereka menemukanku, aku akan terlihat seperti siapapun, dengan daging yang dihabiskan kepiting dan tulang yang dibersihkan laut.

Kurasa aku akan senang di rumah baruku ini, di pinggir laut. Dan kau telah menyambutku dengan baik. Kalian semua telah menyambutku dengan sangat baik.

Ada berapa kita di sini? Aku bisa melihat, tetapi aku tak bisa menghitung.

Kita berkumpul di pantai dan menatapi cahaya dari kamar paling atas di rumahnya. Kita melihat gordennya tersentak, kita melihat wajah putihnya melotot dari balik kelabu. Dia terlihat takut, seakan-akan ia takut pada suatu hari yang kelam kita akan melemparkan batu ke arahnya, untuk menghukumnya karena ketidakramahannya, untuk mencabiknya karena sarapannya yang buruk dan liburannya yang pahit dan nasib kita semua.

Tetapi kita hanya berdiri dengan kaku.

Mengapa kita hanya bisa berdiri dengan kaku?

 

Advertisements

2 thoughts on “Pemilik Pondok Terakhirku

  1. Ini Gaiman. Dan kamu. Saya selalu berpikir bahwa terjemahan adalah melibatkan diri dan menulis ulang sebuah karya dalam kata-katamu, dan hasil akhirnya selalu berbeda tergantung orang yang mencobanya. Terus terang saya lebih suka narasi Gaiman-Aliya ini daripada siapapun yang menerjemahkan American Gods untuk penerbit Gramedia. Ada kesalahan ketik kecil dan beberapa kalimat yang terkesan janggal dari segi struktur. Mungkin kalimat majemuk dalam bahasa Inggris memang selalu terasa berantakan ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia apa adanya. Eh, who am I to say.

    1. Demi apa American Gods ada versi Gramedianya? Wah, kepo.

      Aku ngerasa ada banyak pengaruh Gaiman ke tulisanku sendiri sih. Maklum yah kalau ada yang aneh… Gaiman emang rada aneh.

      Aku sebenernya udah nerjemahin dua cerpennya Gaiman lagi. Ntar kupost aja tuh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s